July 22, 2018

Opini: Hobi

Disclaimer: Postingan ini akan dipenuhi opini pribadi. Jelas tidak sedang membahas sintesis teori sesuatu. Karena pembahasan mengenai opini pribadi, akan sangat banyak kata 'mungkin'.
Yang dapat menjadikan 'mungkin' menjadi 'yakin' adalah 'teori' (re: dalil) yang mana belum kuketahui......
*


Suatu hari saya bertanya pada seorang kakak yang sedang bersusah-payah mengerjakan S3, sambil tetap ikut kajian sana-sini, (kurang lebih):

Saya: Aku bingung kaitan antara profesi/skill/kompetensi dunia dengan agama apa. Kayak keduanya sesuatu yang berbeda dan bukannya bisa complementing each other.
Mas: Memang beda dek
Saya: ??? Terus gimana dong aplikasi Qur'an/Islam dalam keilmuan dunia? Keterkaitannya bagaimana? Kerja/belajar ilmu dunia buang-buang waktu dong? Eh kerja nggak sih kalau buat cowok.
Mas: Sebagai motivator. Niatkan untuk mencari nafkah. Karena nafkah ke anak istri adalah shodaqoh.
Saya: Terus ngapain Mas sekolah sampai S3?
Mas: Hobi.


WHAAAAAT? S3 HOBI.
Are you kidding me?
Ya... gak masalah sih sebenarnya. Tapi, amazing aja... S3 gelar impian banyak orang dianggap hobi udah kayak main gitar atau gambar di sela-sela waktu.

Wait..di sela-sela waktu?
Kalau dipikir-pikir, bukannya memang tujuan utama kita di dunia untuk ibadah? Sehingga sah-sah saja jika S3 itu dikerjakan di sela-sela waktu ibadah? Apakah selama ini justru kita terbalik dalam berpikir? Ibadah yang di sela-sela waktu, sementara yang lainnya diutamakan?


Menyeimbangkan Ilmu Dunia dan Ilmu Agama?
Bukan jarang kita selama ini dengar, "Ilmu dunia dan agama harus seimbang.. jangan cuma fokus kepada ilmu dunia atau ilmu agama." Tapi, benarkah ilmu dunia dan ilmu agama adalah sesuatu yang seimbang? Ketika dia dapat diseimbangkan, bukankah berarti dia sama? Kalau mereka tidak sama, berarti akan ada hal yang dikorbankan/dikurangi/ditambah untuk menyesuaikan dengan yang lainnya. Bagaimana kita bisa tahu takaran berapa yang harus dikurangi dan berapa yang tidak?

Saya banyak merenungkan hal ini semenjak saya menjalani tes di pesantren. Saking banyaknya aktivitas agama, saya jadi bingung kembali mengenai esensi ilmu dunia yang dari dulu saya bangga-banggakan.

Tapi setelah banyak berpikir..apakah benar ilmu yang memiliki manfaat sampai dengan akhirat, yang mana rentang waktunya sampai dengan setelah kita meninggal, sama, dengan ilmu yang terhenti saat kita meninggal?

Dari situ saya berpikir, "Mungkin, tidak dapat diseimbangkan, mereka." Ilmu agama mungkin memang lebih besar/penting porsinya.

"Dan, Aku tidak menciptakan manusia dan jin melainkan untuk menyembah-Ku." (Q.S. Adz-Dzariat: 56)
Jelas, nomor satu. Ibadah. Dan jelas juga, ibadah hanya bisa dijalankan dengan mengerti ibadah seperti apa yang mesti dijalankan, yang berarti; Ilmu Agama.

"Terus, jadi gue ibadah dan belajar agama aja gitu ga usah ngapa-ngapain lagi? Gak usah belajar ilmu dunia?"
Ini bisa jadi tidak benar juga. Pada kenyataannya, kita tidak bisa memungkiri, (1) kita harus bekerja, terutama yang laki-laki. HEI. Bekerja itu ibadah loh buat laki-laki. Kalau kamu niatnya ibadah, sih. Apakah bisa kita bekerja tapi gak punya ilmu dunia? (2) Dunia tidak hanya diisi dengan muslim dan orang-orang yang melakukan ajaran islam. Untuk bisa berinteraksi dengan semuanya, kita butuh sesuatu yang dapat membuat kita dapat berinteraksi dengan mereka. Apa kesamaannya? Ilmu dunia.

Yang berarti kemungkinan, secara sempit makna; ilmu dunia is for surviving the world (sejahtera, tidak hidup miskin, membahagiakan ibu, bapak, anak, nenek, kakek, keluarga besar, tetangga, dll), ilmu agama is for surviving akhirat. The problem is, bagaimana cara survive akhirat? Kita dinilai berdasarkan performa agama (ibadah) di dunia. Berartiiiiiiii, ya, mestinya ibadah mesti serius juga.


Sekali Tepuk Dua Lalat, Sekali Aksi, Dua Dunia
Tapi aku paham ide awal dari menyeimbangkan ilmu dunia dan ilmu agama adalah, bagaimana caranya keduanya selalu kita ingat dan lakukan, atau ada juga yang mengartikan; ilmu dunia dan aplikasinya pun harus untuk beribadah. Misalnya, ilmu dunia untuk mengetahui kebesaran Allah jadi bisa makin rajin ibadah. Aplikasinya dalam bentuk ibadah; misalnya bikin masjid, nolong orang, dll, dsb.
Dan nggak salah. Tapi yang gak kalah pentingnya adalah; bagaimana mengetahui aplikasi dari ilmu dunia tersebut adalah bentuk ibadah yang diperbolehkan/benar?

Ust. Nuzul Dzikri dalam rangkaian kajiannya yang bertema Adab dalam Berilmu sempat mengatakan, yang singkatnya, (1)"sebagai muslim, setidaknya kita paham ilmu agama yang basic-nya (yang fardhu 'ain/kita butuhkan karena kita mesti, akan, atau sedang mempraktikkannya)" dan (2)"belajarnya bertahap..jangan langsung tentang fikih, mulai dari dasarnya (jangan langsung maunya membahas perkara berat dalam agama, misalnya yang rumit macam fitnah, politik, dsb)."
Kemudian Ust. Firanda dalam bahasannya mengenai ilmu dunia dan akhirat juga pernah berpendapat yang simpulannya, "ilmu agama itu wajib dipelajari karena kalau tidak belajar, bagaimana dapat beribadah? Sementara dalam berilmu dunia kita juga mesti mengetahui tuntunannya dalam agama (jika ada hal yang dibahas dalam agama), sehingga kita tahu mana yang boleh dan tidak."

Jadi jika secara cepat kita cerna, tiap muslim mestinya berilmu (agama) untuk dapat menjalankan ibadah (of course, kalau ngga, kita tahu cara ibadahnya bagaimana, dari mana?). Dan ilmu dunia, meski niatnya untuk ibadah, pada praktiknya juga mesti memperhatikan kaidah-kaidah dalam agama, mana halal-haram, dll. Kenapa? Ya biar sekali tepuk dua lalat! Kerjakan dunia dapat akhirat.. Karena pekerjaan, memang bukan beribadah (menyembah Allah..), tapi, bisa jadi berbeda dong kalau kita berusaha menjalankan perintah dan larangannya? Adapun perintah dan larangannya tentunya baru bisa didapat dengan belajar agama. Plus, kita bekerja untuk mencari rezeki yang halal, yang akan digunakan untuk beribadah juga, tentunya harus tahu kan bagaimana supaya rezeki itu halal? Bukan begituuuu.

Seperti misal kita berdagang, kita mesti paham hukum jual-beli. Mana halal, haram, dll. Dengan begitu kegiatan dunia kita, tidak bikin kita dosa dan insyaAllah lebih, lebih berkah.
Atau saat kita menjadi guru, kita mungkin perlu mengetahui adab guru terhadap murid, murid terhadap guru, dan manusia terhadap ilmu.
Sepertinya sih, ilmu dunia akan lebih tricky, tapi it would be extra amazing kalau kita paham betul mana boleh dan tidak boleh dalam bidang kita sembari terus mengembangkan ilmu dunia kita, ya, gak, sih.


Ilmu Dunia untuk Hobi
Jadi apakah kita gak boleh menekuni ilmu dunia? Kalau kita semakin cinta sama Allah (mengakui kebesaran Allah dll) mungkin tidak apa dan malah boleh banget, deh.. Tapi catatannya..mesti hati-hati, kalau memang dalam tuntutan tidak boleh, maka semestinya tidak boleh. Kalau boleh, ya lanjutkan.. Lagipula kalau kita luar biasa striving ilmu dunia (dengan tidak melupakan kepentingan belajar ilmu agama dan mengamalkannya) berarti kamu menunaikan fardhu kifayah, kan...daebak!

Makanya kenapa, "ilmu dunia adalah hobi", menurut saya, ide positioning-nya oke banget, sih! Pada akhirnya, Allah kasih kita bumi dan angkasa yang luuuuas untuk di-explore. WHY NOT. Semacam "Silakan pergi dan belajar mengenai Bulan atau Pluto selama tidak ada sumber yang bilang tidak boleh! Tapi jangan lupa ibadah wajib-sunnah-nya" ya, gak sih.
Ibadah, number one.
Pekerjaan dunia yang termasuk dan/atau memudahkan Ibadah, number two.
Dan lain-lainnya...hobi.
Itu skala prioritas, bukan, "ah aku mau pilih ibadah aja selamanya", terus kita upaya survive dari dunianya apa toh? Terus kita bayar zakat kumaha? Infaq dan sedekah? :(
Dipikir-pikir, kalau kita berpikir ilmu dunia adalah hobi, kita gak akan terlalu stres yaa dengan hal tersebut. :)

Have fun with your knowledge and passion! Jangan lupa pentingnya mengetahui hukum dibaliknya. 'Teori'nya bagaimana...
Mari aplikasikan kegencaran pencarian teori, sejarah dan daftar pustaka sampai ke akar-akarnya (yang kita lakukan dalam skripsi kita) dalam mengerjakan perkara lainnya, termasuk keagamaan!

Mohon ingat ini adalah opini. Semoga Allah selalu menunjukkan kebenaran dan memperbaiki kesalahan. Postingan ini akan diperbaiki begitu ada penjelasan yang lebih kuat basisnya.

P.S.: Jangan lupa ibadah tuh banyaak, loh, mulai dari yang fisik sampai yang hati. Jadi jangan diartikan sangat sempit tulisan ini tbh terlalu general.
Plus, ah jangan berpikir apa-apa haram dong.... coba hitung yang boleh, lebih banyak, kaaan.
I'd rather think of the haram as a challenge tho. Challenge untuk mencoba yang diperbolehkan yang masih banyak pilihannya itu.
Plus lagi, jangan lupa hitung-hitungan Allah amat berbeda dengan manusia..syukur2 semua perkara dunia kita terhitung ibadah  dan kebaikan.. tapi yang paling penting itu, percayalah ilmu tentang beribadah kepada Allah itu the most important thing. Dan semestinya dipelajari dengan baik..olehku dan kamu juga.

Wallahu a'lam bisshawab.
(dan Allah lebih tahu yang sebenarnya)

Sumber:
https://muslim.or.id/18810-setiap-muslim-wajib-mempelajari-agama.html
https://muslimah.or.id/55-dalam-cahaya-ilmu-dan-tauhid-para-salaf.html
https://muslim.or.id/25678-harus-seimbang-antara-mencari-dunia-dan-akhirat.html
https://muslim.or.id/9888-hakikat-ilmu.html
https://muslim.or.id/11391-bidah-hakiki-dan-bidah-idhafiy.html
https://muslim.or.id/24689-skala-prioritas-dalam-belajar-agama-islam-2-ilmu-fardhu-ain-dan-ilmu-fardhu-kifayah.html
https://muslim.or.id/36774-kedudukan-mempelajari-ilmu-duniawi-sains-dalam-timbangan-syariat.html
https://www.youtube.com/watch?v=FqHOZrJUWmE
https://www.youtube.com/watch?v=4GBRv3nAEy0
https://www.youtube.com/watch?v=q0DZB5g1Ozg
https://www.youtube.com/watch?v=oA0u_RmTr4k
https://www.youtube.com/watch?v=eSZxCZOsJSc
https://www.youtube.com/watch?v=vJBJmzUlATg
https://youtu.be/8WzP3Ow4va
https://youtu.be/VNmZeqpQ5zI

Into a Whole New Step: Beda, Beda Banget

Disclaimer: Postingan ini akan sarat dengan opini pribadi. Jelas tidak sedang membahas sintesis teori sesuatu.
Ditulis by request.
*

Semua dimulai dari latar belakang yang panjang, yang saya juga gak tahu lebih baik diceritakan atau tidak, tapi intinya; saya kemarin (beberapa bulan yang lalu) mendaftar pesantren. Dari sekian banyak pesantren di Indonesia, saya mendaftar dua pesantren, yang (menurut saya fokus pengaplikasiannya) berbeda meski sama-sama (tentunya) belajar agama Islam. Tapi, saya tahu, pembahasan perbedaan untuk hal yang krusial dan fundamental (re: agama) oleh seorang saya yang masih payah ilmu, itu bodoh. Sehingga alih-alih hal tersebut, mari kita membahas insight yang saya dapat ketika menjalani serangkaian proses penerimaan santri yang rasanya beda. Beda banget. Daripada kehidupan saya yang biasanya.


1. Bukan Alarm, Tapi Ramai Bacaan Al-Qur'an Orang.
Di salah satu pesantren tempat saya mendaftar, mungkin karena jumlah pendaftar banyak, semua orang berlomba-lomba bangun pagi. Yup, mereka kompetitif. Sejujurnya di tempat itu, saya hampir selalu (em...cuma dua hari sih, hehe) bangun jam 3 pagi, dan saya bahkan tidak menyalakan alarm sama sekali. Pukul 3 pagi, ruangan sudah terlalu ramai untuk saya tidak menyadari keramaian itu. Dan begitu terus sampai tiba waktu istirahat.

"Ya iyalah itu kan pesantren."
Ya..ya emang iya itu pesantren dan mestinya mereka jadi role model dalam menerapkan amalan-amalan dalam Islam. Tapi maksud saya, saya amazed sekaligus heran, gitu, loh.. Kenapa kami sama-sama muslim tapi cara saya berislam berbeda sekali--setidakterbiasa itu saya bangun tidur langsung membaca Qur'an, setidakterbiasa itu menganggap membaca Qur'an, hal yang sepenting itu untuk dibaca sepanjang hari. Astaghfirullah.

Pertanyaannya, sebagai muslim bukannya seharusnya kita sedekat itu dengan Al Qur'an?
Terlepas dari apapun side job kita.


2. "Kerudung itu menjulur sampai dada!"
Bukan hal yang mudah untuk konsisten memakai kerudung panjang yang benar (baca: syar'i) di tengah badai fashion dan trend kecantikan yang melanda dunia ini. Sampai detik terakhir saya mengikuti tes pendaftaran pesantren untuk yang pertama kali saja, saya belum konsisten pakai kerudung panjang, dan saat itu saya tidak malu. Banyak juga orang yang tidak menggunakannya..dan saya nggak berusaha menarik perhatian siapa-siapa juga, kok.

Tapi kemudian, di pesantren, semua orang (kecuali sebagian kecil orang yang sedang tes bersama saya) pakai kerudung yang menjulur sampai dada dan terlihat mudah saja gitu beraktivitas dengannya. 

Saya akui karena lingkungannya juga mendukung, saya pun segera (I WAS SURPRISED AT HOW FAST I AM) beli kerudung yang cukup panjang dan kalau dari samping seenggaknya sesikut. 

Terkait kerudung, saya rasa hampir semua muslimah sudah membaca ayatnya, kan, "Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannnya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menjulurkan khimar ke dadanya..." (QS. An Nuur: 31)
Bukan berita baru dan bukan bahasan baru juga mengenai kerudung yang menjulur sampai (minimal) dada. Tapi even I, I didn't even try to consistently covering my head til over my chest with khimar.
Semenjak pendaftaran, saya sesimpel; merasa lebih punya malu, sih, yang jelas. Malu, saya muslimah tapi ayat sudah jelas begini tetep banyak mikir untuk taatinnya. Padahal, ya, padahal...ribuan atau jutaan muslimah sudah melakukannya. Padahal, ya, padahal..meski mereka semua pesantren, tapi bukannya kita semua sama-sama berkeinginan untuk masuk surga? Apakah benar alasan "kan, mereka pesantren" dan "aku kan, lebih banyak tantangannya" bisa jadi alasan yang kuat? Bagaimana kalau mereka selama ini pesantren justru karena mereka mau menaati aturan Islam dan menjadi lebih kuat dalam taat sehingga mampu mengatasi tantangan yang bakal datang nanti? Bukannya kalau kayak begitu, usaha mereka terdengar lebih hebat ya... 


3. "Kecuali wajah dan telapak tangan itu aurat!"
Melanjutkan yang nomor 2, okelah kerudung kan sangat major dan terlihat banget, bagaimana dengan hal remeh-temeh macam...handsocks, kaus kaki....cadar?

Di salah satu pesantren yang saya daftar, saya mendapati mayoritas orang menutup tangannya sampai hampir punggung tangan dengan rapat (dengan handsocks), sementara tangan saya bisa tersingkap sampai setengah jarak antara telapak dan sikut saat saya menggunakan tangan saya. Karena kondisi ini terpikirkan setelah kejadian nomor 2, dengan lugasnya saya mikir, "Kayaknya itu (handsocks), gue juga harus pakai", Gak tau seriusan dari mana pikiran itu datang dengan cepatnya saat itu. Lagi, saya beli handsocks dan memakainya. Sesimpel itu. Tapi rasanya kayak habis meng-accomplished sesuatu yang....satisfying aja. Lagian, sebenarnya kalau diingat-ingat, emang seperti pernah dengar penjelasannya, kan...yang ada di hadits ini, "Wahai Asma! Sesungguhnya wanita jika sudah baligh maka tidak boleh nampak dari anggota badannya kecuali ini dan ini (beliau mengisyaratkan ke muka dan telapak tangan)." [H.R. Abu Dawud, no. 4104 dan Al-Baihaqi, no. 3218. Hadits ini dishahihkan oleh syaikh Al-Albani rahimahullah. 
Yang..sebenarnya..semestinya..tertutup..mesti. 

Terkait cadar is pretty interesting. Buat yang tidak tahu, (saya juga sejujurnya, baru tahu, sih.. baru tahu yang dengan dipikirkan secara serius bukan selayang pandang saja) cadar itu sunnah. 
Tereereng tereeeng~~~!
Haditsnya ada. (Dan entah karena apa kemarin, sekitar 2 minggu lalu, saya tiba-tiba saja nih, ya..kebetulan, ikutan kajian tentang hijab dan ada pembahasan tentang cadar. Saya datang gara-gara diajak, jadi saya bahkan belum paham temanya apa saat diajak)
Tapi karena dia sunnah, tidak dikerjakan tidak apa. Jadi..tenang! Jangan sewot dulu dan bilang saya berbudaya Arab. Assalamu'alaykum saya cukup nasionalis dan cinta budaya Indonesia ni kebetulan (yang sejalan dengan syariat, ya. adapun yang tidak sejalan, saya tetap menganggapnya sebagai sebuah upaya kreatif dan menarik dalam sejarah peradaban manusia~ Ini bukan pencitraan!!).

Salah satu pesantren tempat saya mendaftar, bagi perempuan, wajib menggunakan cadar (kecuali lokasi amat steril dari laki-laki). TUNGGU DULU, GENGS. Wajib di sini tuh, regulasi dari pesantrennya...seperti saat kamu masuk rohis terus kamu diwajibkan baca satu juz sebelum kegiatan, atau kamu diwajibkan ke kelas dengan pakaian rapi, no kaos and no swallow. 
Sejujurnya lagi, dulu saya rada skeptical juga, kok, dengan cadar... "Apa sih pentingnya. Buat apa sih. Kenapa sih. Ya elllllaaa." Tapi, ya, kalau ada basis aturan yang jelas, aku kudu piye? Minimal cukup dengan memahami "Oh itu sunnah, dan mereka berusaha mendapat pahala sunnah." Apakah sebuah masalah?

Interestingly enough, ketika saya melakukan proses seleksi di sana, saya sukarela dan senang hati pakai cadar. Mungkin, mungkin, sebenarnya saya penasaran, "Macam mana, sih, cadar ni rasanya?" Alhamdulillah dikasih kesempatan yaa buat nyoba. Meski since it's sunnah saya gak tau ya...lanjut 'pa ngga di luar. Banyak sunnah lain yang belum kuaplikasikan atau bahkan kutahu.

Setelah saya pikir-pikir, ada hal yang membuat saya memang lebih pede pakai cadar ketika di pesantren kala itu, salah satu alasannya adalah; (1) karena jalanan pesantren tidak pernah benar-benar steril dari laki-laki (suaminya ustadzah (yang adalah ustadz..), mas-mas, abang-abang, para ikhwan yang nyari ustadznya gara-gara ustadznya lagi ke tempat ustadzahnya), dan (2) para laki-laki yang lewat ini (gak tahu, ya, dengan abang-abang), they want to be able to get away from the so called 'fitna' ketika melihat perempuan. 

"Zaman sekarang mana ada sih lihat cewek doang kena fitnah."
Ya. Detik ini mungkin ngga, detik lain? Padahal berapa juta orang, coba, yang tertarik karena WAJAH duluan. :) Jadi jangan hujat mereka yang berusaha, ya. 


4. Lurus dan Rapat itu Tidak Sama dengan Berdiri Bersampingan.
Salah satu yang saya pelajari benar-benar dari pesantren adalah betapa rapinya saf mereka. Sangat sangat rapi, sigap, dan lugas dalam melakukannya.
Sangat inisiatif untuk maju saat saf depan kosong.
Sangat inisiatif untuk bergeser saat kosong.
Sangat taat dalam menjalankan aturan lurus dan rapat.
Sangat lugas dalam mengungkapkan kepada saudarinya untuk memperbaiki posisi berdiri dalam shalat berjamaah..

Baru kali ini, saya benar-benar paham lurus dan rapat dalam shalat. DAN betapa rapinya barisan ketika itu dilakukan.

Sebagai contoh, saya akan menggunakan barisan paskib. Kita semua belajar cara merapikan barisan. Meskipun barisan longgar, kami punya patokan yang mesti ditaati untuk mencapai kerapian barisan. Dalam merapikan barisan, kita punya "setengah lengan lencang kanan" dengan menempelkan lengan kita dengan sebelah kita, dan memastikan teman yang berjarak dua orang dari kita tidak terlihat. Lengan kita adalah patokannya, dan untuk kesempurnaan, dia harus ditempelkan. Begitu pula dengan lencang kanan. Sedikit ketidakakuratan dalam lencang depan (karena lencang depan mesti ada jarak sekepal atau dua kepal dengan teman di depan kita), tapi ketika kita sudah lencang kanan, lencang depan dipastikan sudah rapi.

Begitulah. Yang terjadi dalam shalat berjamaah. Bukan sajadah yang menjadikan kita rapi dan tanpa celah (sebuah kesepakatan dan diketahui semua orang kalau shalat tidak boleh memiliki celah--sebenarnya), tapi bagian-bagian tubuh kita. Dalam hal ini, kaki, dan bahu. Kaki kita, ketika kita buka selebar bahu (dalam paskib ini namanya "istirahat di tempat"), sebenarnya adalah sebuah posisi berdiri paling nyaman, jika dibandingkan dengan merapatkan kaki (posisi "siap"). Terbayang, kan betapa shalat itu sebenarnya dalam posisi yang nyaman. Kalau kamu pernah paskib pasti kamu sadar betapa berharganya istirahat di tempat.....
Dengan membuka kaki selebar bahu, lebar bahu dan kaki akan menjadi sama, kemudian, rapatkan saja kita dengan teman di samping kita! Dengan begitu, kita akan benar-benar rapat.

Bagaimana dengan lurus?
Dalam paskib, patokan lurus adalah pandangan kita terhadap teman kita yang berjarak dua orang. Bagaimana dengan shalat?
Dengan mempertemukan tumit kita dengan tumit samping kita, kemudian bagian luar kaki kita, menempel seluruhnya dengan kaki teman kita. TADA~ 
Coba dulu, baru bisa lihat betapa rapinya itu..

Mungkin akan tidak nyaman, tapi, saya personal, benar-benar merasa sedang shalat berjamaah. Kamu bisa rasakan kain pada tubuh temanmu, merasakan kehangatan di sekitarmu, mendengar bisik-bisik bacaan yang memuji Tuhanmu..


5. "Al-Qur'an itu Mudah! Kamu Pasti Bisa Cepat. Tapi Harus Tetap Sabar."
Pesantren tempat saya daftar, program utamanya adalah hafalan Al Qur'an. Dalam sehari, kami diminta untuk menghafal minimal 3 halaman. Dan proses ini dilakukan selama dua hari, berarti keluarannya adalah 6 halaman. Apesnya, seorang saya, yang sangat jarang menghafal ini, amat kesulitan menghadapi tes ini.

Rasanya, waktu yang biasanya berjalan lama, berjalan cepat sekali seolah-olah sedang mengejek saya yang tidak hafal-hafal. Setiap pagi saya mengebut, siang-siang, saya lebih-lebih mengebut, dan berakhir dengan kelelahan di sore hari. Habis isya, yang mestinya setoran, rasanya saya mau tidur aja...
Hari pertama saya tes, saya cuma dapat satu halaman yang sangat buruk performanya! Tajwid seolah dilupakan, apa itu ikhfa, mad saja tidak saya terapkan (lol). Oh, jangan tanya tanda waqaf. Saya berhenti seenak nafas.
Pertanyaan polos pun terlontar dari mulut penguji, "Kesusahan, ya, suratnya?" Sangat baik hati, tapi sangat menjelaskan betapa buruknya hafalan saya. Saya masih berusaha pede tuh saat itu.."Besok saya akan coba lebih baik!" Sejujurnya saya kira yang saya lakukan (tidak mencapai target hafalan) itu wajar. Tapi ternyata, ada orang yang benar-benar hafal 3 halaman..
Hari esoknya, saya mencoba menargetkan 3 halaman, pagi hari saya berusaha keras, tapi sampai pukul 11 tidak ada hasil yang oke, satu halaman pun belum lancar, saya tidak berani lanjut ke halaman berikutnya. Terus? terus saya nangis, deh, siang-siang....

Satu hal yang saya pikirkan adalah, "Ini beda banget dari belajar biasanya... Gue gak paham bahasa arab, dan gue gak bisa pakai logika untuk bisa melakukannya. Ini pure hafalan yang kayak mesti dapat ridho buat masuk ke dalam otak"

Kemudian datanglah teman menghibur, "Al-Qur'an itu Mudah! Kamu Pasti Bisa Cepat. Tapi Harus Tetap Sabar."
Saat itu saya cuma mikir, "maksudnya apaan sih. Jadi gue mesti cepat apa sabar?" it sounds like two whole different things.
Terus dia menjelaskan, "Sabar, jangan tergesa-gesa pas menghafal semua itu."

Habis itu cobalah saya lebih meresapi dan gak tergesa-gesa. hasilnya saya ngeh arti tiap ayat, sehingga paham alur dan bahasa arab per katanya, tapi saya lama sekali dalam melontarkan kalimat dalam bahasa arabnya. Saat itu Ashar sudah tiba. Saya panik karena Maghrib tidak mungkin bisa digunakan untuk menghafal. Pintarnya, teman saya kemudian kembali melontarkan jawaban yang sangat luar biasa efeknya, "Kamu sepertinya sudah hafal, kamu tahu ayat setelahnya apa, tapi belum terbiasa dengan kalimatnya.. Kamu tinggal biasain aja dengan baca berulang-ulang tiap ayat sampai hafal. Gak usah dipaksa hafal! Benar-benar kamu baca aja berulang-ulang dengan melihat tulisannya, nanti mungkin beberapa kali terakhir, baru tidak dilihat".
Akhirnya hari itu saya..cuma ngafalin satu halaman, sih, tapi jauh lebih lancar dibanding sebelumnya. Penguji melihat progress saya, dan mungkin karena itu saya masuk tahap pertimbangan.

Di tahap pertimbangan, saya benar-benar merenungi maksud dari "sabar tapi cepat". 
Sejujurnya, sampai sekarang saya belum tahu persis maksudnya apa, tapi mungkin, yang saya rasakan seperti ini, "Jangan memaksakan ayat itu untuk masuk ke dalam otak dalam waktu singkat. Itu namanya, tidak sabaran. Coba dipahami dulu..sepahamnya kita, kemudian diulang-ulang. Gunakan tenggat waktu, tapi bukan berarti kamu jadi sangat bergantung pada deadline-deadline itu."
Masih abstrak?
I wish to be able to understand more as well!!


Masih ada perjalanan dan pengalaman yang akan saya jalani, I wish to tell you more!
Semoga bisa jadi insight untuk kita semua!

Dan semoga tiap harinya kita lebih paham mengenai diri kita dan harus apa, sih, kita di dunia ini..sebenarnya. Dan melakukannya. Semoga Allah menjaga keikhlasan dan memudahkan langkah kita. aamiin.


Wallahu a'lam bisshawab.
(dan Allah lebih tahu yang sebenarnya).

Sumber:
https://muslim.or.id/16637-tata-cara-berdiri-dalam-shalat.html
https://almanhaj.or.id/4114-kewajiban-menutup-aurat-dan-batasannya.html
https://muslim.or.id/26725-makna-hijab-khimar-dan-jilbab.html

January 3, 2018

Beberapa Mata Kuliah Pilihan di Arsitektur UI

Bermaksud memenuhi janji terhadap diri sendiri, berikut saya akan membagikan sedikit pengalaman mengenai perkuliahan di arsitektur, dalam hal ini, mata kuliah pilihan (berikutnya saya tulis makupil) yang saya ambil . Saya pikir post seperti ini cukup penting bagi mahasiswa-mahasiswa galau yang mesti mengambil makupil untuk memenuhi kewajiban 144 sksnya. Saya sangat sering ditanya-tanya tentang makupil, dan saya rasa memang penting untuk mengetahui terlebih dahulu seperti apakah makupil yang kita ambil. Ibarat mau masuk medan perang, kamu harus mengetahui tentang medannya dulu, dong? Ya, kan? Ya, dong. Kecuali kalau kamu suka surprise.

Sebenarnya, Pendidikan IMA FTUI 2015 (zaman angkatan saya menjadi IMA FTUI) pernah dengan inisiatifnya membuat sebuah blog yang sangat berguna bagi mahasiswa galau (terutama saya) dengan url archidemic.blogspot.com (sebenarnya bisa dilihat juga di guidebook arsitektur UI di architecture.ui.ac.id). Di sana kamu dapat melihat mata kuliah apa saja yang ada di Arsitektur UI, tujuan pembelajaran, silabus, prasyarat, dan bahan ajar. Tapi saya menyadari bahwa lebih dalam mengenai itu, mahasiswa biasanya juga butuh opini personal, semacam "Susah dapat nilai, gak, kak?" "Dosennya gimana, kak?" dll. Pak dan Bu Dosen juga tahu, kok, kita biasa bertanya semacam ini, he (mungkin). Di kali ini saya akan memberikan opini yang lebih personal terhadap mata kuliah pilihan yang saya ambil, dengan tidak melanggar batas-batas hormat saya terhadap dosen arsitektur dan arsitektur UI itu sendiri (mungkin). Apa saya post ini setelah saya lulus aja ya

Lebih penting dari mata kuliah pilihan itu sendiri, saya berharap mata kuliah pilihan yang kamu ambil adalah yang sesuai dengan materi favorit kamu di arsitektur, kompetensi yang kamu inginkan, tujuan kamu setelah perkuliahan, dan topik skripsi yang ingin kamu ambil, serta siapa pembimbing yang kamu inginkan. Ada baiknya seperti itu..karena 4 tahun itu waktu yang singkat untuk kamu mencoba SEMUA materi yang ada. Kecuali mungkin kalau SKS kamu tiap semester 24 dan kamu selalu ambil 24 sks di tiap semester. KUDOS TO YOU!


1. Utilitas Bangunan Lanjut (disebut juga utilbang)
Cuplikan apa yang kami buat dalam kelas utilbang. Credit to kelompok u(ma)tilbang.

Tujuan Pembelajaran: Mahasiswa mampu menjelaskan sistem utilitas di dalam bangunan bertingkat tinggi (melebar maupun menjulang), sehingga bangunan tersebut dapat berfungsi dengan baik ditinjau dari segi keamanan dan kenyamanan terhadap penggunanya.

Silabus: Sistem pengadaan air bersih dan pembuangan air kotor/ limbah, sistem pengudaraan buatan, sistem pencahayaan buatan, tata suara, CCTV, telepon, penangkal petir, sistem transportasi vertikal, sistem pembersih bangunan.

Metode Pembelajaran: Materi kelas, lalu secara berkelompok melakukan survey lapangan, dan presentasi yang kemudian didiskusikan. Di akhir mata kuliah membuat laporan menyeluruh mengenai utilitas bangunan yang dikunjungi. 

Opini Personal: Utilbang termasuk mata kuliah pilihan yang menurut saya penting untuk diikuti utamanya sebelum Perancangan Arsitektur: Teknologi. Karena kalau kita paham utilbang, bangunan kita tentunya dapat lebih baik (ya iyalah). Bingung harus bilang apa.. utilbang penting, deh, menurutku. Suka ataupun gak suka, kamu dapat benefit ketika merancang di kelas perancangan dengan ikut makupil ini. Kamu jadi tahu bagaimana dan dimana harus meletakkan pipa-pipa air bersih/kotor/bekas, sistem pengudaraan, pencahayaan, sesuatu yang menurut saya agak repot kalau harus dipelajari sendiri.
Dosennya juga baik. Pak dosen kalau ngasih nilai menurut saya obyektif, pengajarannya jelas dan on point (bahasa tidak berputar-putar). Tips saya, kamu sebaiknya aktif di kelas ini. Bertanya, menjawab. Bukan kenapa-kenapa, sih, supaya lebih paham saja. Karena utilbang saya rasa penting banget...
Dalam utilbang, ada baiknya kamu pilih teman-teman yang kooperatif, ya. Kalau kamu di-matil-in, kamu akan merasa lelah mengerjakan tugasnya. Menurutku, sih.


2. Fasad Bangunan Tinggi (disebut juga fasad)
Cuplikan apa yang dibuat dalam presentasi mengenai fasad. 
Credit to kakak senior S2 yang keren-keren banget

Tujuan Pembelajaran: Mahasiswa mampu menguasai kaidah-kaidah fasad bangunan tinggi meliputi aspek estetika, teknis, dan ramah lingkungan. 

Silabus: Esensi kulit fasad bangunan tinggi (ketahanan terhadap gempa, gaya lateral/angin, dan kedap air); Desain fasad; Bahan dan teknologi detail fasad; Green fa├žade.

Metode Pembelajaran: Materi kelas, materi dari dosen tamu, lalu secara berkelompok (kalau waktu saya ikut kelas; secara berpasangan) melakukan survey/mencari tahu mengenai fasad suatu bangunan, dan presentasi. Di akhir mata kuliah membuat laporan menyeluruh mengenai fasad dari bangunan yang dipelajari.

Opini Personal: Kebetulan saya mengikuti kelas fasad ketika kelas fasad masih baru-barunya dibentuk. Jadi, sepertinya departemen pun sedang dalam tahap memperbaiki silabus dan kurikulum dari kelas fasad ini. 
Tapi menurut saya, sebenarnya fasad bisa menjadi sangat menarik dan penting, terutama ketika tiba masanya kita (maksudku Indonesia) mampu membuat fasad yang sangat unik. Kalau sekarang kebetulan (atau bukan kebetulan?) banyaknya, kan, bangunan menggunakan curtain wall atau kaca yang precast yang materialnya cenderung itu-itu saja. Setahu saya, pada kelas fasad di tahun setelah saya mengikutinya, terdapat beberapa perubahan metode dan materi pembelajaran yang membuat mahasiswa dapat lebih mengerti mengenai fasad.  
Di kelas fasad, kita akan dipaparkan materi mengenai bagaimana fasad sebenarnya dapat merespon cahaya (suhu (panas) dan cahaya (terang)), angin, air, dan peran fasad dalam bangunan ramah lingkungan. Dari paparan tersebut, sebenarnya kita dapat mengetahui cara membentuk fasad yang sesuai dengan kualitas yang kita inginkan ada dalam bangunan kita (sebelah sini panas, jadi fasadnya begini, sebelah situ maunya banyak cahaya tapi sejuk, jadi fasadnya begitu, dsb dst), tapi ketika saya mengikuti fasad, kami belum belajar sampai gagasan desain fasad itu, dan menurut saya pribadi penjelasan mengenai fasadnya belum begitu mendetail--atau saya saja yang gak paham.
Tapi mengingat setiap tahunnya departemen akan menyempurnakan kurikulum, saya rasa fasad adalah salah satu makupil yang patut untuk dipertimbangkan untuk diikuti, karena gak mungkin, kan, bangunan kamu gak pakai kulit? 
Plus, terkait nilai, oke, kok, ehe. Yang penting kamu mengerjakan tugas dengan baik dan antusias.


3. Lingkungan Daur Hidup (disebut juga LDH)

Cuplikan presentasi LDH--SD. 
Credit to teman sekelompok.

Tujuan Pembelajaran: Mahasiswa mampu menilai kelayakan lingkungan bagi pemakai sesuai tingkatan daur hidupnya seperti: lahir, kanak-kanak, remaja, dewasa, tua dan mati dari segi tempat dan ritus.

Silabus: Pengenalan; garis besar dan pengertian lingkungan daur hidup baik di kota maupun di desa/ lingkungan tradisional; meliputi kejiwaan ibu yang mengandung; lingkungan kelahiran; rumah; rumah sakit; dan rumah bersalin. Ritus- ritus yang menyangkut kelahiran, lingkungan bayi dan orang tuanya; pertumbuhan daya kenal bayi; pertumbuhan kejiwaan kanak-kanak; lingkungan bermain dan aturan bermain sebagai perjanjian tak tertulis. lingkungan rumah, dekat rumah, dan prasekolah. Orang tua dan pengasuh anak; ujian menjadi remaja dan ritualnya, ruang gerak remaja; ruang berkarya dewasa dan ritus perkawinan. Lingkungan kerja; lanjut usia; ruang kematian dan ritusnya.

Metode Pembelajaran: Membaca bacaan, kemudian mengambil maksud daripadanya, dijadikan bahan untuk melakukan survey pada tiap tahapan usia. Tiap hasil survey dipresentasikan dan didiskusikan. Dalam diskusi tersebut dosen akan memberikan input, insight, dan materi.

Opini Personal: Kalau kamu sangat suka membahas manusia, maka makupil ini mungkin tepat untukmu. Makupil ini akan sangat human-oriented, membahas bagaimana mereka yang secara fisik dan psikologis berada dalam tahapan usia tertentu berinteraksi dengan ruang dan elemen ruang (baik fisik maupun sosial). 
Saya tidak punya banyak komentar karena apa yang akan dibahas dalam presentasi akan sangat berkaitan dengan pilihan lokasi kamu melakukan survey, tapi yang jelas, saya menyarankan kamu untuk tidak survey dalam waktu yang berdekatan dengan waktu presentasi (alias menjadi deadliner). Kenapa? Karena tiap minggu mahasiswa akan diminta untuk survey, dan tiap minggu kita bukan cuma harus menjabarkan mengenai ruang/arsitektur yang kita amati, tapi kita juga harus menganalisis apa yang terjadi dalam ruang tersebut, dengan aktor utama tahapan usia yang sedang dibahas. Karena kita tidak akan diberi materi di awal, kita harus mencari tahu/menganalisis sendiri apa yang berkaitan dengan ruang dan tahapan usia tersebut. Namun jangan khawatir, setelah itu kelas akan mendiskusikan presentasi kita, dan lama kelamaan kita akan have a grasp on what to analyze.
Saran saya, sebaiknya cari kelompok yang kooperatif, karena kalau kamu di-matil-in, duh, asli lelah. Bayangkan kamu mesti membuat denah, menganalisis pergerakan dan semua itu, kemudian kamu mesti presentasi juga..wow daebak. Oh ya, ini berlaku untuk tiap kelas sih, kalau bisa, bikin kelompok yang heterogen angkatannya..biar adil aja buat semua (bayangin kalau ada kelompok yang semuanya senior, matilah kita: kalah aktif, kalah keren, kalah paham). Beberapa dosen juga lebih suka jika mahasiswanya memikirkan angkatan lain dan bukan dirinya sendiri.
Di kelas ini, menurut saya, sih, nilainya objektif, semua tergantung performa kamu dalam menganalisis, presentasi, dan berdiskusi, serta tugas-tugas UTS dan UAS. Nah, karena itu, hati-hati, ya, kalau kamu memilih untuk ngga aktif berbicara. It's a no no in this class. Tahu sendiri kamu tidak dapat materi kelas (seperti guru mengajar), materi yang kamu dapatkan berasal dari hasil diskusi.


4. 2D - Komunikasi Desain Digital (disebut juga komdes)
(2017 edition)
Cuplikan mengenai hal yang dibuat di kelas Komdes. Seems easy, kan, kalau udah paham cad...

Tujuan Pembelajaran: Mahasiswa dapat menggunakan media gambar 2D digital dalam alur kerja perancangan arsitektural, dapat memilih dan menggunakan ragam cara dan teknik dalam menggambar untuk tujuan tertentu. 

Silabus: Gambar berbasis CAD dan NURBS, gambar berbasis pixel, gambar berbasis vector, representasi arsitektural dan diagram.

Metode Pembelajaran: Pengenalan tools yang ada dalam software, pemberian gambar/bahan yang akan dibuat dengan software tersebut. Dosen akan melakukan tutorial dan memberikan tips-tips dalam membuat bahan tersebut dengan software. Tiap akhir kelas akan diberikan tugas untuk melatih penggunaan software di luar kelas.

Opini Personal: Sebenarnya ada perubahan antara 2D Komunikasi Desain Digital yang sekarang dengan yang masa saya (duh berasa tua). Pada masa saya, komdes hanya berisi CAD dan rhino. Tapi nampaknya sekarang 2D komdes berisi semua software yang 2D. Terbayang, kan? Pada saat saya mengikuti komdes, saya belajar cad dan rhino namun sekarang, 2D komdes tidak akan belajar rhino melainkan fokus pada software 2D seperti photoshop dll juga. Saya rasa pembagian 2D dan 3D seperti ini lebih baik, sih, meski mungkin untuk CAD-nya jadi tidak sedalam pada masa saya. Karena sejujurnya dulu saya sama sekali tidak paham software digital 2D macam photoshop, tapi thank God youtube came to life.
Saya rasa pengajaran sangat jelas, kalau dosen yang kamu dapatkan sama dengan saya, beliau sering menawarkan video tutorial kelas yang dia rekam dengan laptopnya. Terkait nilai, just do the homework precisely. Dan...jangan copy copy punya teman atau senior (sebenarnya ini berlaku untuk seluruh mata kuliah di dunia ini). Teman saya ada yang seperti ini dan ketahuan.


5. Teori Perumahan Kota (disebut juga perumkot)

Ini apa yang bisa jadi akan kamu bahas di kelas perumkot.. tapi gak tahu juga, sih
Credit to google.com dan Sentul City.

Tujuan Pembelajaran: Mahasiswa mampu menganalisis dampak dari perencanaan pembangunan perumahan di perkotaan. 

Silabus: Permasalahan perumahan di perkotaan, studi tipologi dan lingkungan perumahan, metoda dan tipologi membangun, studi ekonomi dan manajemen perumahan, studi perencanaan dan perancangan perumahan kota.

Metode Pembelajaran: Materi kelas, materi dosen tamu, kemudian survey lapangan (waktu saya mengambil kelas ini, kami diminta untuk survey ke sebuah perumahan) dan mempresentasikan apa yang dipelajari dari daerah yang diamati berdasarkan materi yang dipelajari.

Opini Personal: Kalau kamu tertarik urban, sebaiknya kamu ambil ini. Kalau kamu tidak tertarik tapi mau ambil, ya..gak apa untuk menambah wawasan. Setelah saya mengambil makupil ini, sejujurnya saya agak menyesal, karena saat itu saya masih tidak banyak tahu mengenai urban. Saya rasa akan lebih baik kalau saya mengambil kelas ini setelah saya mengambil mata kuliah pilihan Perencanaan Kota dan setelah lebih peka terhadap kondisi dalam realita dan gimana itu ngaruh ke housing. Karena sewaktu itu saya tidak banyak paham, saya bahkan tidak tahu mesti bertanya apa. Nilai saya merepresentasikan kualitas pemikiran saya. Jadi ya...begitu. ehe. Berarti penilaiannya bagus dan objektif.


6. Perencanaan Kota (disebut juga PWK atau perkot (terkadang sering mengundang kesalahpahaman dengan prinsip perancangan kota dan perumahan kota karena kemiripan singkatan/nama. Hati-hati kalau janjian sama teman dan bilangnya "perkot", jangan-jangan gak akan ketemu di kelas yang sama))

Cuplikan presentasi mengenai hal yang mungkin akan dibahas di PWK. 
Credit to kelompok deadliner-ku yang selalu membuatku ketar-ketir tiap Rabu pagi. 

Tujuan Pembelajaran: Mahasiswa memahami sejarah dan teori perencanaan kota melalui survey kesejarahan dan/atau melalui tema-tema kunci. Mahasiswa memiliki pemahaman akan (1) bagaimana ruang kota berfungsi (dilihat dari konteks sejarah) dilandasi oleh pencarian tatanan ruang; (2) paradigm-paradigma kunci dalam pemikiran perencanaan kota. Mata kuliah ini akan disusun seputar prinsip bahwa sejarah perencanaan kota adalah juga teori perencanaan kota yang terikat oleh etika perencanaan. 

Silabus: Silabus disusun mengikuti tatanan kronologis dan dibagi dalam 5 bagian: 
(1) refleksi terhadap ide perencanaan, asal muasal dan praktek perencanaan; kota industri dan ‘housing question’; pencarian tatanan spasial; 
(2) kota modernis; eksperimen kolonial dan pasca-kolonial; 
(3) mimpi suburban (warisan perencanaan kota Amerika); dari ghetto ke kota-kota panutan (kontrol rasial & etnis); 
(4) kota dan kewarganegaraan di momen sejarah yang berbeda; peraturan dan pengaturan ruang (dasar peraturan dari perencanaan); krisis perkotaan, manajerial perkotaan dan kota bisnis; membangun kota kelas dunia di global South
(5) teori-teori yang berkompetisi di perencanaan dan keadilan; melihat perencanaan melampaui neo-liberalisme: paradigma yang bermunculan di perencanaan. Alternatif lainnya, silabus dapat pula menginterupsi tatanan kronologis dan disusun menyerupai kelas survey yang menata materinya ke dalam tema-tema kunci, seperti: Empire; Kolonial/Paskakolonial; Modernitas & Alternatif Modernitas; Kapitalisme Pacific Rim dan Transnational Urbanisme; Ras/Etnis, Perencanaan dan Real Estate; Kota dan Desa; Marginalitas; Pembangunan kembali Kota; Kota Entreprenur, Perencanaan Dystopia dan Paska Perkotaan.

Metode Pembelajaran: Mempresentasikan pemahaman akan hasil bacaan yang diberikan pada tiap minggu, dilanjutkan dengan diskusi di minggu yang sama. Tiap minggu akan membahas materi yang berbeda namun berkaitan. Pada diskusi ini dosen akan memberikan input, insight, dan materi yang sesuai bahasan.

Opini Personal: Saya rasa makupil ini adalah salah satu makupil yang oke untuk dipelajari sekalipun kamu ngga tertarik urban. Mata kuliah ini dapat membuat kita lebih paham dengan realita dalam skala makro (??) dan saya bersyukur saya ikut makupil ini karena saya jadi lebih paham ketika menonton debat pemilihan calon gubernur 2017 kemarin (apakah ini penting? saya rasa iya). Selain itu, kita juga akan diperlihatkan beberapa realita kehidupan yang sepertinya tidak akan kita temui dalam mata kuliah lain. Pada saat saya mengikuti kelas perencanaan kota, kami diajak untuk survey ke kampung-kampung di utara Jakarta yang amat berbeda dengan segala yang sudah kita pelajari di arsitektur. Selama ini kita pikir arsitektur cuma tentang bangunan dan ruang kota yang indah-indah, kan? Nyatanya tidak. Nyatanya, ada berbagai macam manusia hidup di dalamnya dan berkehidupan dengan metode yang berbeda, dikarenakan kondisi uang, keluarga, dll. Bingung rasanya harus menulis ini ke dalam kalimat pendek.
Kembali ke makupil itu sendiri, kita tidak diajar dengan pengajaran layaknya guru SMA mengajar di kelas, namun kita diminta untuk memahami bacaan dan mendiskusikan hasil bacaan. Di dalam sana tukar wawasan antar-mahasiswa dan antara mahasiswa dengan dosen terjadi. Saya tidak merasa diajarkan sebuah teori yang saklek, namun saya dipaparkan dengan teori-teori yang mungkin dapat diterapkan di dunia nyata dan bagaimana implikasi yang terjadi (sejujurnya awalnya saya kira akan membahas mengenai UU dll, tapi ternyata bukan).
Saran dari saya kalau kamu memilih mengambil makupil ini, jangan datang terlambat, karena akan mengurangi waktu diskusi. Baca bacaan sungguh-sungguh, dan aktif berdiskusi. Bukan hanya terkait nilai, tapi terkait sebanyak apa input yang bisa kita dapatkan di kelas ini. Semakin banyak diskusi, semakin banyak hal yang dapat dibahas..


7. Arsitektur, Kota, dan Kuasa (disebut juga kuasa atau cipow (singkatan dari city power))

Cuplikan mengenai presentasi yang mungkin akan dibahas di kelas Kuasa. 
Credit to kelompokku yang sering mengorbankan diri untuk presentasi pertama karena kelompok lain belum lengkap orangnya. Jangan telat semestinya. Mari menjadi mahasiswa yang rajin, hm..

Tujuan Pembelajaran: Pemahaman akan peran arsitektur, perencanaan dan perancangan di dalam dan antar konteks urban. Peningkatan pemahaman akan hubungan antara perancangan lingkung-bina dan kuasa (power). Peningkatan kesadaran untuk tidak lagi mendefinisikan arsitektur secara sempit (hanya dalam ranah desain/seni atau profesi arsitek) yang pada umumnya memisahkan aspek visual dan spasial dengan konteks sosial, politik, ekonomi dan budaya. Pemahaman bahwa lingkung-bina disusun dari dan akan menghasilkan hubungan kuasa (power) tertentu di antara pemakainya dalam konteks yang spesifik. 

Silabus: Peran arsitektur dan perencanaan dalam konteks yang luas. Hubungan antara perancangan dan kuasa (power). Silabus disusun sesuai tema yang memperlihatkan hubungan tersebut, antara lain: Arsitektur dan consumption, kemiskinan dan ketidaksetaraan; informalitas; bencana, theme parks/ leisure; ruang-ruang kolonial/post-kolonial/kebangsaan/globalisasi/ neoliberalisme; spatial enclaves/zona/segregasi berdasarkan jender, ras dan etnisitas, kelas sosial, agama; keadilan ruang; perumahan, infrastruktur.

Metode Pembelajaran: Mempresentasikan hasil bacaan atau tontonan, di minggu presentasi tersebut juga biasanya diminta tugas personal membuat essay (terdapat nilai kelompok dan individu). Setelah presentasi dilanjutkan dengan diskusi, pada diskusi ini dosen akan memberikan inputinsight, dan materi yang sesuai bahasan.

Opini Personal: Yang menarik dari kelas ini, kita bukan cuma baca atau berdiskusi, tapi juga menonton, YAS! Kapan lagi nonton yang diperbolehkan dilakukan di kelas. Filmnya juga varied mulai dari film fiksi sampai dengan dokumenter, ada juga film pendek. Semua film berkaitan dengan materi, sehingga, ya..setelah menonton kita akan diminta untuk menulis essay terkait film tersebut.
Plus, saya pribadi merasa kelas ini menarik karena saya sebelumnya tidak pernah berpikir bahwa arsitektur juga dipengaruhi oleh ada atau tidaknya power, sebelumnya saya selalu merasa ruang adalah sesuatu yang netral dan tidak akan terkontaminasi oleh keberadaan power dan/atau hierarki / polemik antar manusia...
Ohya, karena akan ada banyak tuags menulis di kelas ini, ada baiknya belajar untuk menulis dengan baik. Saya rasa buruknya tulisan dan tata bahasa saya menyumbang minus-nya nilai (yah, kamu tahu sendiri tulisanku macam apa dari blog ini, aha).


8. Fotografi 

Salah satu foto yang ku-take. Bukan yang terbaik agar merasa rela hati jika gambar ini diambil, whehehe.

Tujuan Pembelajaran: Mahasiswa mampu membuat karya fotografi yang mengandung unsur seni dan komunikasi foto arsitektur melalui tata olah foto dan foto esai. 

Silabus: Memahami prinsip visual komunikasi melalui media dua dimensi, pencahayaan, prinsip sistem zona, prinsip visual grafis, exposure management, dan sistem penyempurnaan citra foto. 

Metode Pembelajaran: Materi kelas, dan tiap minggu akan diberikan tugas memotret sesuai dengan pembahasan materi minggu tersebut. Pada minggu berikutnya, akan diminta untuk mempresentasikan hasil foto, dilanjutkan dengan materi berikutnya, begitu seterusnya.

Opini Personal: Lumayan untuk mengetahui pendapat orang lain terkait hasil potretmu, dan memperbaiki kualitasnya. Kalau kamu suka banget fotografi, saya rasa kamu bisa ambil kelas ini untuk mendongkrak nilaimu sebanyak 3 SKS atau untuk menambah koleksi, aha! Sebaiknya kamu juga aktif dalam diskusi kelas, biar dikenal Pak Dosen (dan mesti tetap menghasilkan hasil potret yang baik). 
Tiap minggu akan ada tugas memotret, jadi mesti pintar-pintar pilih lokasi survey, dan mesti sedia kamera tiap minggu (siapa tahu kamu tidak punya kamera seperti saya, hehe).


9. Kapita Selekta - Analisis Spasial 
Salah satu gambar yang mungkin akan terlihat dalam kelas. 
Credit to Montgomery, etc dalam jurnalnya Where Wolves Kill Moose.

Tujuan Pembelajaran: Mahasiswa mengetahui bagaimana metode dalam analisis (data) spasial, dan mengetahui kelebihan dan keterbatasan suatu metode analisis spasial. Mahasiswa mampu memahami metode untuk menganalisis tiga tipe data spasial: point data, area (polygon) data, dan field (continuous surface) data. (correct me if I'm wrong) 

Silabus: Menganalisis set data spasial menggunakan metode yang dipelajari dalam kelas.

Metode Pembelajaran: Materi kelas, membaca bacaan, membuat komentar terkait bacaan tersebut, diskusi dalam tiap materi dan mempraktikkan metode analisis spasial yang sedang dibahas dengan menggunakan software

Opini Personal: Saya akan coba membahasakan dengan bahasa saya, jadi mohon koreksinya kalau salah, ehe.
Sebelumnya, analisis spasial masuk kapita selekta sepertinya untuk mencari tahu bagaimana jika matkul ini ada di Arsitektur UI.. Jadi, analisis spasial adalah sesuatu yang sama sekali baru, dan saya bahkan tidak tahu apakah kapita selekta berikutnya akan membahas analisis spasial. Sebenarnya saya juga kurang mengerti apa itu 'kapita selekta', tapi sepanjang yang saya perhatikan, kapita selekta adalah mata kuliah pilihan yang dirasa dapat meningkatkan wawasan dalam arsitektur, namun bukan mata kuliah yang tiap semester/tahun ada (topik akan berbeda-beda, tergantung keputusan departemen--sepertinya).
Kembali ke analisis spasial, dalam analisis spasial, kita akan membahas dalam skala makro (wilayah/regional), terkait fenomena sosial, environmental, dll. Fenomena tersebut akan dibahas secara kuantitatif, jadi benar-benar menggunakan posisi dan lokasi yang spesifik di atas bumi. Jadi benar-benar pembahasannya tuh sangat berbeda dengan analisis arsitektur yang biasa kita lakukan. Biasanya, kan, kita menggunakan metode yang kualitatif, nah, ini ngga. Di sini properti dan atribut yang digunakan benar-benar sesuatu yang terkuantifikasi dan akan menggunakan statistik dalam menganalisis. 
Saya pribadi sebenarnya merasa ini seru, TAPI sayangnya otak saya tuh sudah dalam beberapa tahun terbiasa dengan bentuk analisis yang kualitatif saya akui saya sangat polos dan bodoh saat mengikuti kelas tersebut..jadi, saya merasa sangat sangat sayang sekali karena tidak langsung paham, hft. Saya rasa saya akan butuh another satu s.d. dua tahun untuk paham tentang analisis spasial (atau jangan-jangan a whole new period of studying, lol), karena ini adalah sesuatu yang sangat baru untuk saya. Tapi saya sendiri merasa amat tertarik, sih, dengan analisis spasial, gotta see it more somehow....how?
Terkait nilai saya rasa objektif enough, atau malah mungkin terlalu baik. Karena saya benar-benar se-ngga paham (tapi se-amazed itu sih) sama mata kuliah ini. 
Enough with praising this matkul, huft.
(mungkin ini semua karena sebelumnya saya memilih jurusan Pembangunan Wilayah saat SBMPTN, mungkin ini semua karena itu)
Kembali terkait Kapita Selekta, mungkin kamu akan menemui topik lain. Beberapa teman saya ada yang mendapatkan topik Tektonik Bambu, dst.


10. Prinsip Perancangan Kota (disebut juga perkot atau perikot (p(e)rinsip perkotaan, lol))
Salah satu cuplikan penjelasan rancangan desain kelompok. 
Credit to kelompokku yang saat itu semuanya juga sambil mengerjakan skripsi.

Tujuan Pembelajaran: Memahami teori spasial-rancang kota dan aplikasi ke perancangan fisik kota, memahami metoda urban design, inquiry and design research, memiliki wawasan mengenai pandangan dan pendekatan proses perancangan kota; memahami dasar-dasar spasial-rancang kota dan mampu menginterpretasikannya ke dalam kasus suatu wilayah kota. 

Silabus: Prinsip-prinsip sistem tatanan pada dua dan tiga dimensi (citra, tipe, skala, preseden). Kondisi ruang kota dan ruang antara bangunan, teori spasial dan tipologi ruang kota, elemen-elemen dan unsurunsur rancang kota, eksplorasi konsep dan metoda dasar penelitian melalui urban design inquiry and design research, studi tata ruang dan lingkungan. Komponen rancang kota sebagai kendali proses pembentukan lingkungan fisik suatu kawasan kota (tata guna lahan, intensitas bangunan, GSB dan GSJ, KLB dan KDB, amplop bangunan, ruang terbuka hijau, sirkulasi, parkir, infrastruktur, konservasi dan koridor visual/townscape).

Metode Pembelajaran: Materi kelas, membaca bacaan, materi dari dosen tamu kemudian dalam bentuk kelompok memilih daerah yang akan dirancang, dan merancang gagasan kota yang sesuai dengan materi yang dipelajari.

Opini Personal: Kalau kamu selalu ingin tahu mengenai teori yang saklek mengenai perancangan kota, maka inilah kelas yang semestinya kamu ambil (setelah mengikuti kelas Pengantar Konteks Perkotaan). Di sini benar-benar guideline based, dan merancang. Kamu akan diminta untuk merancang kota (sekelurahan gitu kalau ga salah).
Terkait nilai, jadilah aktif dan buat sebaik-baik perancangan ehe. Mirip-mirip sama Perancangan Arsitektur tapi bebannya, ya, cuma 3 sks. 



P.S.: Saya mengalami kegalauan whether I should mention names (of the lecturer) or not, tapi sejak 2017 saya berpikir sepertinya tidak perlu mention nama dalam opini pribadi, kecuali kalau saya menulis dengan maksud memperkenalkan. Di sini, kan, saya memperkenalkan mata kuliah pilihannya bukan dosennya (lagipula ada beberapa makupil yang dosennya lebih dari satu, sehingga belum tentu yang kamu dapatkan adalah dosen yang sama denganku) :)

P.P.S.: Seiring berjalannya waktu, tentunya akan ada perubahan yang dilakukan oleh departemen Arsitektur UI untuk menyempurnakan kegiatan perkuliahan. Mungkin akan ada perubahan sistem dalam belajar, detail yang diajarkan, dosen pengajar, dan nama mata kuliah pilihan yang ada. Dan yang paling penting, di atas adalah opini saya pribadi mengenai mata kuliah yang bersangkutan, bisa saja sebenarnya lebih banyak hal yang bisa kamu dapat (pastinya).

About Me

My photo
Already 20. The girl who tries to be adorable enough.
"Face tomorrow, tomorrow is not yesterday."
-Avril Lavigne, Darlin'